Skip to main content

Macet Jakarta itu


Macet, macet, macet. Jakarta tambah macet. itu keluhan semua orang. ya, hampir semua orang teriak begitu. rasanya kita rindu melewati jalan-jalan jakarta dengan nyaman, tanpa perasaan tertindih tindih, tanpa harus terus menekan klakson dan pedal rem.

Jakarta kian macet. bahkan bertambah-tambah saja tarafnya. tak peduli, bila gubernur sekarang adalah Jokowi yang disebut-sebut sebagai calon kuat presiden 2014, kemacetan mengular dan menggurita ke seluruh Jakarta.

nah, lantas karena macet ini, orang, sebetulnya para politisi, menuding Jokowi gagal. Jokowi dicap tanpa kinerja, tanpa prestasi. lihatlah, jakarta tambah macet, teriak mereka, para politisi itu tepatnya.
jakarta itu memang tambah macet, tambah sumpek. tetapi hemat saya bukan karena faktor tunggal jokowi. sebab kemacetan ini umurnya sudah sekian gubernur. artinya penyakit lama.

bila kita setuju kemacetan adalah penyakit menahun, maka treatmennya pun butuh masa, butuh proses. tidak seperti penyakit panu, yang bisa sembuh dan bersih dalam seminggu, kemacetan ini lebih kompleks.

ya lebih rumit, karena terkait dengan paling tidak masalah lahan, kemauan berubah, dan tentu saja singkronnya kebijakan.

lahan dibutuhkan untuk menambah jalan baru. tanpa jalan baru, tak ada alternatif untuk mengurai kemacetan. sudah masyur data yg menyebutkan bahwa laju pertumbuhan jalan di jakarta itu cuma 0,5% pertahun, dibandingkan dengan pertumbuhan kendaraan yang berkisar antara 10-20%. lihatlah, betapa anjloknya ratio antara pertumbuhan jalan dan kendaraan. jadi bagaimana mungkin mau mengurai kemacetan bila lahan tak ada.

kemauan berubah itu terkait dengan perubahan mindset publik. semakin tinggi prosentase penggunaan kendaraan pribadi maka semakin macet pula jakarta. resepnya adalah perubahan prilaku publik yang beralih ke transportasi massal. transportasi massal ini mengurangi beban jalan secara signifikan. tugas, publik beralih ke transportasi massal, sementara tugas pemerintah menyediakan wahananya.

kebijakan yang padu antara pemerintah pusat dan DKI berarti satu padunya kebijakan terkait kemacetan. anda tak akan mengeluarkan kebijakan  mobil pribadi murah bila mindset pusat daerah padu. bagaimana mungkin orang akan beralih ke transportasi massal sementara ada yang namanya mobil murah? stupid ya?

so, masalah kemacetan ini memang mengesalkan, tetapi saya tetap meyakini bahwa solusinya membutuhkan waktu. jadi bersabarlah, bila benar jokowi mau bekerja, saya harap kemacetan jakarta akan berkurang...semoga saja.

Comments

Popular posts from this blog

langkah kaki yg tersuruk

Seperti juga air yg kadang gagal menembus cadas, begitu pula kaki ini yg kerap tersuruk dan terantuk. entah sudah berapa puluh kali kaki ini berdarah, tertusuk duri, sekedar lecet, karena mata dan kaki tidak seirama. mata memandang, otak kosong, entah memikirkan apa. langkah kaki yang tersuruk dan terantuk, menyakitkan. tetapi tidak mengapokan. kita tetap melangkah walau resiko tersuruk dan terantuk terbuka. kita menguatkan dalam hati bahwa tak lagi-lagi tersuruk itu terjadi. walau kenyataannya tak pernah terkakulasi dengan tepat. langkah kaki dan langkah hidup itu sepertinya berdampingan, seirama. ritme langkah hidup itu mirip benar dengan dengan langkah kaki yg sering terantuk dan tersuruk itu. sama benar. berkali-kali dalam hidup kita terluka, tersakiti, jatuh, dan menderita. tetapi, itu tidak mengapokan. bahkan justru membesarkan dan menguatkan. jatoh dan menderitanya kita itu seperti imun yang datang begitu cacar air menghinggapi tubuh, setelahnya cacar air tak sudi lagi berku...

Basa Basi Tak Lagi Punya Teritori

Sebut saja siapa yang menurutmu terlibat, Jenderal itukah, birokrat diakah, pengacara kah Atau siapa? Sebut saja, biar ku tebas semua dengan lidahku. Basa basi biar ku kubur jauh hari Di pusara tua gunung padang Bicara hati hati biar ku pateni Ku kubur di  karet bivak. Sudahi sandiwara Hapus topeng setan Coret lidah manis Aku sungguh muak! Kau yg berdasi, mari sini Kau yg berkursi maju kl berani Anda yg bersenjata, silahkan di data Biar ku rampas  habis. Biar ku tebas Sampai tumpas Biar ku peras Jadi ampas. Siapa yg terlibat katakan saja Basa basi tak lagi punya teritori Di negeri ini…!

Melihat ke Atap sebuah Masjid

Oleh: Oloy S. Wandi Berjalan ke sebuah tempat dengan langkah gontai Kaki melambai turun naik ditiup angin sore. Hati masih terus berkabut Dingin, lebam, sahdu, remang  jadi satu, masing masing seperti janur pada ketupat Yg sulam menyulam itu. Batu-batu, aspal yg mengelupas, gemrisik rumput Sapa menyapa bagai sahabat lama, seperti baru ketemu. Merasakan sesiur  angin dari muka menerpa wajah ku yg kusam Meniup lelah yg sekian lama bersarang, ada sensasi di situ; kecipak sepat di kali sunter yg kerap menggoda kailku. Aku tertegun sesaat, tertegun sebab entah kapan  pernah ku rasakan sensasi ini, ia telah lama terkubur, jauh, jauh, dan jauh Lalu tiba2 ia muncul sebagai hantu berlumpur. Angin itu membawa sesuatu,  kabar luka atau kabar duka, berita berita Yg kerap kita tolak dan jauhi, cerita cerita yg kita anggap mustahil: cerita Dajjal yg terkerangkeng di sebuah pulau atau wajah wajah yg kerap muncul Pada ubin seorang janda tua. Atau kau lebih suka ce...