Skip to main content

langkah kaki yg tersuruk

Seperti juga air yg kadang gagal menembus cadas, begitu pula kaki ini yg kerap tersuruk dan terantuk. entah sudah berapa puluh kali kaki ini berdarah, tertusuk duri, sekedar lecet, karena mata dan kaki tidak seirama. mata memandang, otak kosong, entah memikirkan apa.

langkah kaki yang tersuruk dan terantuk, menyakitkan. tetapi tidak mengapokan. kita tetap melangkah walau resiko tersuruk dan terantuk terbuka. kita menguatkan dalam hati bahwa tak lagi-lagi tersuruk itu terjadi. walau kenyataannya tak pernah terkakulasi dengan tepat.

langkah kaki dan langkah hidup itu sepertinya berdampingan, seirama. ritme langkah hidup itu mirip benar dengan dengan langkah kaki yg sering terantuk dan tersuruk itu. sama benar. berkali-kali dalam hidup kita terluka, tersakiti, jatuh, dan menderita. tetapi, itu tidak mengapokan. bahkan justru membesarkan dan menguatkan. jatoh dan menderitanya kita itu seperti imun yang datang begitu cacar air menghinggapi tubuh, setelahnya cacar air tak sudi lagi berkunjung.

tetapi benar juga bahwa langkah yg tersuruk itu bisa saja mematahkan kaki. dan kita tak mampu lagi berdiri dengan tegak. bahkan kita terkapar. kaki yg patah, dan mungkin saja melayu, menumbuhkan dua hal dalam diri. perasaan kalah dan minder. perasaan kalah berkecamuk ketika diri membandingkan dan memikirkan masa gemilang bak kijang muda, sementara diri hanya terpincang atau bahkan terbaring lesu. yang memperburuk adalah rasa minder yg kemudian menyerang kepala.

dua keadaan yang tak menyenangkan itu adalah kemungkinan hidup. yang bisa saja menelungkupkan seorang anak muda enerjik, pintar, ganteng dalam khayalan dan keputusasaan. hasil akhirnya bisa saja kematian. tetapi sebab kemungkinan itu selalu meniscayakan kemungkinan lain maka kebangkitan pun adalah kemungkinan.

dalam dilema antara keputusasaan dan harapan untuk bangkit itulah, seorang anak manusia sebenernya sedang dididik oleh alam tentang menjadi kuat. tanpa dilema dan ketertindasan anak manusia hanyalah seonggok daging cengeng. kernanya membentur-benturkan diri dalam kesulitan seseungguhnya penting juga kita menyengajakannya. bukan karna kita gembira dengan masalah tetapi keinginan untuk mendidik mental itu yang penting.

mental yang kuat sabda seorang filsuf adalah cermin jiwa yang sehat. tanpa mental yang kuat dan sehat itu, bagaimana mungkin bisa menghadapi kerasnya hidup.




Comments

Popular posts from this blog

Basa Basi Tak Lagi Punya Teritori

Sebut saja siapa yang menurutmu terlibat, Jenderal itukah, birokrat diakah, pengacara kah Atau siapa? Sebut saja, biar ku tebas semua dengan lidahku. Basa basi biar ku kubur jauh hari Di pusara tua gunung padang Bicara hati hati biar ku pateni Ku kubur di  karet bivak. Sudahi sandiwara Hapus topeng setan Coret lidah manis Aku sungguh muak! Kau yg berdasi, mari sini Kau yg berkursi maju kl berani Anda yg bersenjata, silahkan di data Biar ku rampas  habis. Biar ku tebas Sampai tumpas Biar ku peras Jadi ampas. Siapa yg terlibat katakan saja Basa basi tak lagi punya teritori Di negeri ini…!

Melihat ke Atap sebuah Masjid

Oleh: Oloy S. Wandi Berjalan ke sebuah tempat dengan langkah gontai Kaki melambai turun naik ditiup angin sore. Hati masih terus berkabut Dingin, lebam, sahdu, remang  jadi satu, masing masing seperti janur pada ketupat Yg sulam menyulam itu. Batu-batu, aspal yg mengelupas, gemrisik rumput Sapa menyapa bagai sahabat lama, seperti baru ketemu. Merasakan sesiur  angin dari muka menerpa wajah ku yg kusam Meniup lelah yg sekian lama bersarang, ada sensasi di situ; kecipak sepat di kali sunter yg kerap menggoda kailku. Aku tertegun sesaat, tertegun sebab entah kapan  pernah ku rasakan sensasi ini, ia telah lama terkubur, jauh, jauh, dan jauh Lalu tiba2 ia muncul sebagai hantu berlumpur. Angin itu membawa sesuatu,  kabar luka atau kabar duka, berita berita Yg kerap kita tolak dan jauhi, cerita cerita yg kita anggap mustahil: cerita Dajjal yg terkerangkeng di sebuah pulau atau wajah wajah yg kerap muncul Pada ubin seorang janda tua. Atau kau lebih suka ce...