Seperti juga air yg kadang gagal menembus cadas, begitu pula kaki ini yg kerap tersuruk dan terantuk. entah sudah berapa puluh kali kaki ini berdarah, tertusuk duri, sekedar lecet, karena mata dan kaki tidak seirama. mata memandang, otak kosong, entah memikirkan apa.
langkah kaki yang tersuruk dan terantuk, menyakitkan. tetapi tidak mengapokan. kita tetap melangkah walau resiko tersuruk dan terantuk terbuka. kita menguatkan dalam hati bahwa tak lagi-lagi tersuruk itu terjadi. walau kenyataannya tak pernah terkakulasi dengan tepat.
langkah kaki dan langkah hidup itu sepertinya berdampingan, seirama. ritme langkah hidup itu mirip benar dengan dengan langkah kaki yg sering terantuk dan tersuruk itu. sama benar. berkali-kali dalam hidup kita terluka, tersakiti, jatuh, dan menderita. tetapi, itu tidak mengapokan. bahkan justru membesarkan dan menguatkan. jatoh dan menderitanya kita itu seperti imun yang datang begitu cacar air menghinggapi tubuh, setelahnya cacar air tak sudi lagi berkunjung.
tetapi benar juga bahwa langkah yg tersuruk itu bisa saja mematahkan kaki. dan kita tak mampu lagi berdiri dengan tegak. bahkan kita terkapar. kaki yg patah, dan mungkin saja melayu, menumbuhkan dua hal dalam diri. perasaan kalah dan minder. perasaan kalah berkecamuk ketika diri membandingkan dan memikirkan masa gemilang bak kijang muda, sementara diri hanya terpincang atau bahkan terbaring lesu. yang memperburuk adalah rasa minder yg kemudian menyerang kepala.
dua keadaan yang tak menyenangkan itu adalah kemungkinan hidup. yang bisa saja menelungkupkan seorang anak muda enerjik, pintar, ganteng dalam khayalan dan keputusasaan. hasil akhirnya bisa saja kematian. tetapi sebab kemungkinan itu selalu meniscayakan kemungkinan lain maka kebangkitan pun adalah kemungkinan.
dalam dilema antara keputusasaan dan harapan untuk bangkit itulah, seorang anak manusia sebenernya sedang dididik oleh alam tentang menjadi kuat. tanpa dilema dan ketertindasan anak manusia hanyalah seonggok daging cengeng. kernanya membentur-benturkan diri dalam kesulitan seseungguhnya penting juga kita menyengajakannya. bukan karna kita gembira dengan masalah tetapi keinginan untuk mendidik mental itu yang penting.
mental yang kuat sabda seorang filsuf adalah cermin jiwa yang sehat. tanpa mental yang kuat dan sehat itu, bagaimana mungkin bisa menghadapi kerasnya hidup.
langkah kaki yang tersuruk dan terantuk, menyakitkan. tetapi tidak mengapokan. kita tetap melangkah walau resiko tersuruk dan terantuk terbuka. kita menguatkan dalam hati bahwa tak lagi-lagi tersuruk itu terjadi. walau kenyataannya tak pernah terkakulasi dengan tepat.
langkah kaki dan langkah hidup itu sepertinya berdampingan, seirama. ritme langkah hidup itu mirip benar dengan dengan langkah kaki yg sering terantuk dan tersuruk itu. sama benar. berkali-kali dalam hidup kita terluka, tersakiti, jatuh, dan menderita. tetapi, itu tidak mengapokan. bahkan justru membesarkan dan menguatkan. jatoh dan menderitanya kita itu seperti imun yang datang begitu cacar air menghinggapi tubuh, setelahnya cacar air tak sudi lagi berkunjung.
tetapi benar juga bahwa langkah yg tersuruk itu bisa saja mematahkan kaki. dan kita tak mampu lagi berdiri dengan tegak. bahkan kita terkapar. kaki yg patah, dan mungkin saja melayu, menumbuhkan dua hal dalam diri. perasaan kalah dan minder. perasaan kalah berkecamuk ketika diri membandingkan dan memikirkan masa gemilang bak kijang muda, sementara diri hanya terpincang atau bahkan terbaring lesu. yang memperburuk adalah rasa minder yg kemudian menyerang kepala.
dua keadaan yang tak menyenangkan itu adalah kemungkinan hidup. yang bisa saja menelungkupkan seorang anak muda enerjik, pintar, ganteng dalam khayalan dan keputusasaan. hasil akhirnya bisa saja kematian. tetapi sebab kemungkinan itu selalu meniscayakan kemungkinan lain maka kebangkitan pun adalah kemungkinan.
dalam dilema antara keputusasaan dan harapan untuk bangkit itulah, seorang anak manusia sebenernya sedang dididik oleh alam tentang menjadi kuat. tanpa dilema dan ketertindasan anak manusia hanyalah seonggok daging cengeng. kernanya membentur-benturkan diri dalam kesulitan seseungguhnya penting juga kita menyengajakannya. bukan karna kita gembira dengan masalah tetapi keinginan untuk mendidik mental itu yang penting.
mental yang kuat sabda seorang filsuf adalah cermin jiwa yang sehat. tanpa mental yang kuat dan sehat itu, bagaimana mungkin bisa menghadapi kerasnya hidup.
Comments
Post a Comment