Skip to main content

Emak Kita yang Mulia

saya memiliki emak yg mulia. status beliau ini, bukan melulu sebab sy anaknya, tetapi konfirmasi dari berbagai-bagai orang yang menandai beliau. bahwa beliau mulia dalam pandangan sy sebagai anaknya, tentu pemirsa maklum adanya. tetapi, pandangan dan penilaian di luar kekerabatan dan hubungan anak beranak itu yg bikin saya bangga.

emak saya hanya perempuan biasa saja. sekolah sampai kelas 3 SR, tak terlalu pandai bergaul, bahkan adakalanya begitu tertutup. entah mengapa, beliau seperti dilanda ketakutan yang berlebih dan memandang hubungan dengan orang lain itu sebagai sesuatu yang membebani bahkan dalam saat-saat tertentu menakutkan.

emak saya hanya perempuan biasa saja. seingat saya, masakan emak tak ada yang berbau western. masakan beliau diolah dengan bumbu dasar saja, tidak ruwet, dan 'itu-itu saja'. tetapi entah mengapa, tiap-tiap mengingat itu, saya selalu kangen dengan masakannya.

beliau selalu dipanggil bu haji. oleh  siapa pun. walau emak belum haji. bila mendengar beliau dipanggil begitu, saya selalu menyahutinya dengan : aamiiin sekuatnya. berharap itu menjadi doa yang bisa terlaksana. dan saya melihat wajah emak yang sumringah.

tiap-tiap saya bertemu dengan orang yang pernah berhubungan dengan emak, mereka pasti membisikan kata-kata begini: emak mu itu mulia....saya terharu. saya bertanya lebih jauh pada orang itu: mengapa? ah berbulan aku tak bayar kontrakan pun, emakmu tetap s aja tersenyum tulus ketika aku mengendap dan berpapasan dengan beliau.

lalu? emakmu itu tak pernah menaikan harga kontrakan. tak pernah. bahkan ketika harga kontrakan di sekeliling sudah melambung lambung, beliau tetap setia dengan harga lama. ah kalau itu untung di elu, balas saya...hahahaha.

ada lagi? emakmu selalu membantu siapa saja yg kesulitan, entah saudara-saudaranya, tetangga, bahkan orang yg tak dikenal. hmmm....berkali-kalii beliau membantu keluarga saya, bahkan sampai memberikan kalung emasnya demi membantu keperluan saya...

dan lain-lain. saya terharu. sungguh mulia engkau emakku. dan sungguh tak berbakti anakmu ini. sebab ketika kau merenggang nyawa, aku bahkan jauh di sisimu. aku tak sempat menyuapimu seperti engkau pernah menyuapiku. aku tak sempat merawat mu seperti engkau dulu merawat ku dengan kasih sayang. tak sempat aku menggendong mu seperti dulu kerap engkau menggendongku. tak sempat pula aku menghajikan engkau....

ah emak....maafkan anakmu yg tak berguna ini, semoga engkau senantiasa dirahmati Allah, dan dimasukan dalam syurgaNya....Aamiiin...

in memoriam emakku....



Comments

Popular posts from this blog

langkah kaki yg tersuruk

Seperti juga air yg kadang gagal menembus cadas, begitu pula kaki ini yg kerap tersuruk dan terantuk. entah sudah berapa puluh kali kaki ini berdarah, tertusuk duri, sekedar lecet, karena mata dan kaki tidak seirama. mata memandang, otak kosong, entah memikirkan apa. langkah kaki yang tersuruk dan terantuk, menyakitkan. tetapi tidak mengapokan. kita tetap melangkah walau resiko tersuruk dan terantuk terbuka. kita menguatkan dalam hati bahwa tak lagi-lagi tersuruk itu terjadi. walau kenyataannya tak pernah terkakulasi dengan tepat. langkah kaki dan langkah hidup itu sepertinya berdampingan, seirama. ritme langkah hidup itu mirip benar dengan dengan langkah kaki yg sering terantuk dan tersuruk itu. sama benar. berkali-kali dalam hidup kita terluka, tersakiti, jatuh, dan menderita. tetapi, itu tidak mengapokan. bahkan justru membesarkan dan menguatkan. jatoh dan menderitanya kita itu seperti imun yang datang begitu cacar air menghinggapi tubuh, setelahnya cacar air tak sudi lagi berku...

Basa Basi Tak Lagi Punya Teritori

Sebut saja siapa yang menurutmu terlibat, Jenderal itukah, birokrat diakah, pengacara kah Atau siapa? Sebut saja, biar ku tebas semua dengan lidahku. Basa basi biar ku kubur jauh hari Di pusara tua gunung padang Bicara hati hati biar ku pateni Ku kubur di  karet bivak. Sudahi sandiwara Hapus topeng setan Coret lidah manis Aku sungguh muak! Kau yg berdasi, mari sini Kau yg berkursi maju kl berani Anda yg bersenjata, silahkan di data Biar ku rampas  habis. Biar ku tebas Sampai tumpas Biar ku peras Jadi ampas. Siapa yg terlibat katakan saja Basa basi tak lagi punya teritori Di negeri ini…!

Melihat ke Atap sebuah Masjid

Oleh: Oloy S. Wandi Berjalan ke sebuah tempat dengan langkah gontai Kaki melambai turun naik ditiup angin sore. Hati masih terus berkabut Dingin, lebam, sahdu, remang  jadi satu, masing masing seperti janur pada ketupat Yg sulam menyulam itu. Batu-batu, aspal yg mengelupas, gemrisik rumput Sapa menyapa bagai sahabat lama, seperti baru ketemu. Merasakan sesiur  angin dari muka menerpa wajah ku yg kusam Meniup lelah yg sekian lama bersarang, ada sensasi di situ; kecipak sepat di kali sunter yg kerap menggoda kailku. Aku tertegun sesaat, tertegun sebab entah kapan  pernah ku rasakan sensasi ini, ia telah lama terkubur, jauh, jauh, dan jauh Lalu tiba2 ia muncul sebagai hantu berlumpur. Angin itu membawa sesuatu,  kabar luka atau kabar duka, berita berita Yg kerap kita tolak dan jauhi, cerita cerita yg kita anggap mustahil: cerita Dajjal yg terkerangkeng di sebuah pulau atau wajah wajah yg kerap muncul Pada ubin seorang janda tua. Atau kau lebih suka ce...