saya memiliki emak yg mulia. status beliau ini, bukan melulu sebab sy anaknya, tetapi konfirmasi dari berbagai-bagai orang yang menandai beliau. bahwa beliau mulia dalam pandangan sy sebagai anaknya, tentu pemirsa maklum adanya. tetapi, pandangan dan penilaian di luar kekerabatan dan hubungan anak beranak itu yg bikin saya bangga.
emak saya hanya perempuan biasa saja. sekolah sampai kelas 3 SR, tak terlalu pandai bergaul, bahkan adakalanya begitu tertutup. entah mengapa, beliau seperti dilanda ketakutan yang berlebih dan memandang hubungan dengan orang lain itu sebagai sesuatu yang membebani bahkan dalam saat-saat tertentu menakutkan.
emak saya hanya perempuan biasa saja. seingat saya, masakan emak tak ada yang berbau western. masakan beliau diolah dengan bumbu dasar saja, tidak ruwet, dan 'itu-itu saja'. tetapi entah mengapa, tiap-tiap mengingat itu, saya selalu kangen dengan masakannya.
beliau selalu dipanggil bu haji. oleh siapa pun. walau emak belum haji. bila mendengar beliau dipanggil begitu, saya selalu menyahutinya dengan : aamiiin sekuatnya. berharap itu menjadi doa yang bisa terlaksana. dan saya melihat wajah emak yang sumringah.
tiap-tiap saya bertemu dengan orang yang pernah berhubungan dengan emak, mereka pasti membisikan kata-kata begini: emak mu itu mulia....saya terharu. saya bertanya lebih jauh pada orang itu: mengapa? ah berbulan aku tak bayar kontrakan pun, emakmu tetap s aja tersenyum tulus ketika aku mengendap dan berpapasan dengan beliau.
lalu? emakmu itu tak pernah menaikan harga kontrakan. tak pernah. bahkan ketika harga kontrakan di sekeliling sudah melambung lambung, beliau tetap setia dengan harga lama. ah kalau itu untung di elu, balas saya...hahahaha.
ada lagi? emakmu selalu membantu siapa saja yg kesulitan, entah saudara-saudaranya, tetangga, bahkan orang yg tak dikenal. hmmm....berkali-kalii beliau membantu keluarga saya, bahkan sampai memberikan kalung emasnya demi membantu keperluan saya...
dan lain-lain. saya terharu. sungguh mulia engkau emakku. dan sungguh tak berbakti anakmu ini. sebab ketika kau merenggang nyawa, aku bahkan jauh di sisimu. aku tak sempat menyuapimu seperti engkau pernah menyuapiku. aku tak sempat merawat mu seperti engkau dulu merawat ku dengan kasih sayang. tak sempat aku menggendong mu seperti dulu kerap engkau menggendongku. tak sempat pula aku menghajikan engkau....
ah emak....maafkan anakmu yg tak berguna ini, semoga engkau senantiasa dirahmati Allah, dan dimasukan dalam syurgaNya....Aamiiin...
in memoriam emakku....
emak saya hanya perempuan biasa saja. sekolah sampai kelas 3 SR, tak terlalu pandai bergaul, bahkan adakalanya begitu tertutup. entah mengapa, beliau seperti dilanda ketakutan yang berlebih dan memandang hubungan dengan orang lain itu sebagai sesuatu yang membebani bahkan dalam saat-saat tertentu menakutkan.
emak saya hanya perempuan biasa saja. seingat saya, masakan emak tak ada yang berbau western. masakan beliau diolah dengan bumbu dasar saja, tidak ruwet, dan 'itu-itu saja'. tetapi entah mengapa, tiap-tiap mengingat itu, saya selalu kangen dengan masakannya.
beliau selalu dipanggil bu haji. oleh siapa pun. walau emak belum haji. bila mendengar beliau dipanggil begitu, saya selalu menyahutinya dengan : aamiiin sekuatnya. berharap itu menjadi doa yang bisa terlaksana. dan saya melihat wajah emak yang sumringah.
tiap-tiap saya bertemu dengan orang yang pernah berhubungan dengan emak, mereka pasti membisikan kata-kata begini: emak mu itu mulia....saya terharu. saya bertanya lebih jauh pada orang itu: mengapa? ah berbulan aku tak bayar kontrakan pun, emakmu tetap s aja tersenyum tulus ketika aku mengendap dan berpapasan dengan beliau.
lalu? emakmu itu tak pernah menaikan harga kontrakan. tak pernah. bahkan ketika harga kontrakan di sekeliling sudah melambung lambung, beliau tetap setia dengan harga lama. ah kalau itu untung di elu, balas saya...hahahaha.
ada lagi? emakmu selalu membantu siapa saja yg kesulitan, entah saudara-saudaranya, tetangga, bahkan orang yg tak dikenal. hmmm....berkali-kalii beliau membantu keluarga saya, bahkan sampai memberikan kalung emasnya demi membantu keperluan saya...
dan lain-lain. saya terharu. sungguh mulia engkau emakku. dan sungguh tak berbakti anakmu ini. sebab ketika kau merenggang nyawa, aku bahkan jauh di sisimu. aku tak sempat menyuapimu seperti engkau pernah menyuapiku. aku tak sempat merawat mu seperti engkau dulu merawat ku dengan kasih sayang. tak sempat aku menggendong mu seperti dulu kerap engkau menggendongku. tak sempat pula aku menghajikan engkau....
ah emak....maafkan anakmu yg tak berguna ini, semoga engkau senantiasa dirahmati Allah, dan dimasukan dalam syurgaNya....Aamiiin...
in memoriam emakku....
Comments
Post a Comment