semangat itu seperti iman juga, kadang tebal, kadang menipis. sewaktu-waktu tinggi, di lain saat rendah seperti lumut. sama juga dengan indeks saham di bursa, suatu saat meninggi, lebih banyak rontok...hehehe. itulah semangat, barang abstrak dengan pengaruh riil, nyata.
adakah cara menjaga semangat itu tetap tinggi dan jangan lagi terkapar di lantai macam pemabuk?? itu pertanyaan biasa dan umum sekali. tetapi barangkali, justru yg umum dan biasa inilah yg kerap kita lupakan jawabannya. yup, jawabannya. sebab mungkin sudah berjuta kali telah dijawab oleh para motivator ahli perihal tanya itu, dan masih saja timbul pula pertanyaannya. jadi, apakah sebab biasa kemudian ia disepelekan atau ia hanya dipandang sepele padahal ia itu hal sulit?
saya beranggapan, ia hanya pertanyaan biasa dengan jawaban yg biasa jua. yang tak biasa dan bisa luarbiasa adalah cara kita mengaktuilkan jawaban itu. mengaktuilkan jawaban itu bisa jadi urusan yg pelik. pelik sebabnya ia berurusan dengan tindakan, kelakuan, tabiat, pribadi diri. konsistensi jadi konci yang penting di sini.
saya sering bersemangat ketika pertama melakukan sesuatu, mendapatkan sesuatu. sehari-dua hari ia terus menyala, tetapi memasuki hari ketiga dan seterusnya saya sudah melupakannya. konsistensi itu terus tak terpegang, ia ibarat belut yg diberi oli dalam tangan saya. tiap-tiap ingin saya genggam, terus saja belut itu ucul*.
konsisten, keajegan, seperti bermusuhan dengan saya. padahal tak ada sekalipun pernah ku sakiti dia. lalu dimana salah saya bila begitu? paling tidak persepsi tentang keajegan harus kita perjelas. sebab jangan sampe ada pemirsa yg budiman berkoar dengan bahasa filsafat, bahwa tak ada yg namanya keajegan, selain ketidakajegan itu.
bukan, bukan begitu pengertian saya tentang keajegan. maksud saya adalah sebuah kondisi batin yg menyala dan punya keinginan kuat untuk berusaha membaik, mengikuti, dan bersemangat menyalakan api terhadap satu hal. simplenya: ia bisa saja turun, tetapi tidak kemudian ndeprok, ndlosor, melumut, hancur. ia bisa saja menukik, tetapi disatu titik punya daya balik ketitik stabil. jadi proses mau kembali itu yg sy pikir harus ada ketika bicara keajegan.
adakah cara menjaga semangat itu tetap tinggi dan jangan lagi terkapar di lantai macam pemabuk?? itu pertanyaan biasa dan umum sekali. tetapi barangkali, justru yg umum dan biasa inilah yg kerap kita lupakan jawabannya. yup, jawabannya. sebab mungkin sudah berjuta kali telah dijawab oleh para motivator ahli perihal tanya itu, dan masih saja timbul pula pertanyaannya. jadi, apakah sebab biasa kemudian ia disepelekan atau ia hanya dipandang sepele padahal ia itu hal sulit?
saya beranggapan, ia hanya pertanyaan biasa dengan jawaban yg biasa jua. yang tak biasa dan bisa luarbiasa adalah cara kita mengaktuilkan jawaban itu. mengaktuilkan jawaban itu bisa jadi urusan yg pelik. pelik sebabnya ia berurusan dengan tindakan, kelakuan, tabiat, pribadi diri. konsistensi jadi konci yang penting di sini.
saya sering bersemangat ketika pertama melakukan sesuatu, mendapatkan sesuatu. sehari-dua hari ia terus menyala, tetapi memasuki hari ketiga dan seterusnya saya sudah melupakannya. konsistensi itu terus tak terpegang, ia ibarat belut yg diberi oli dalam tangan saya. tiap-tiap ingin saya genggam, terus saja belut itu ucul*.
konsisten, keajegan, seperti bermusuhan dengan saya. padahal tak ada sekalipun pernah ku sakiti dia. lalu dimana salah saya bila begitu? paling tidak persepsi tentang keajegan harus kita perjelas. sebab jangan sampe ada pemirsa yg budiman berkoar dengan bahasa filsafat, bahwa tak ada yg namanya keajegan, selain ketidakajegan itu.
bukan, bukan begitu pengertian saya tentang keajegan. maksud saya adalah sebuah kondisi batin yg menyala dan punya keinginan kuat untuk berusaha membaik, mengikuti, dan bersemangat menyalakan api terhadap satu hal. simplenya: ia bisa saja turun, tetapi tidak kemudian ndeprok, ndlosor, melumut, hancur. ia bisa saja menukik, tetapi disatu titik punya daya balik ketitik stabil. jadi proses mau kembali itu yg sy pikir harus ada ketika bicara keajegan.
carilah setan atau iblis untuk mengakselerasi imanmu
ReplyDeletesudah sering bertemu iblis setan jin, memang iman sy jadi begitu akseleratif, mengikuti mereka....
Delete