Untuk yang kesekiannya saya melihat Bang Rhoma di TV One. bukan untuk menyanyi, atau ceramah agama, tetapi berbicara sebagai salah seorang yang mengajukan diri sebagai bakal capres. kali ini yang didiskusikan adalah kontroversi pembubaran MK oleh BR, dengan alasan-alasan yang bagi banyak orang justru salah tempat.
saya tak terlalu banyak berharap dengan diskusi itu. apalagi sendari awal, TV One seperti ingin menguliti BR. Saya justru prihatin dengan BR ini, beberapa kali dia masuk TV, tetapi justru yang saya lihat hanya menjatuhkan dirinya. ya, menjatuhkan dirinya. saya bertanya-tanya dalam hati, apakah BR ini tak punya konsultan politik?
saya mengingat, pertama kali menyaksikan BR dalam acara mata najwa. di situ, terlihat sekali bila BR tak menguasai persoalan sebab dia dibantai oleh Najwa. dari acara itu, saya berharap BR mengambil pelajaran. paling tidak banyak membaca, dan memiliki konsultan politik yang mampu memperbaiki komunikasi politiknya. itu harapan saya.
hari ini, saya memang melihat BR berubah. paling tidak dia sudah belajar konstitusi. argumentasinya dilandasi oleh referensi ayat dan pasal UU. tetapi pokok persoalannya adalah: argumen pembubaran MK yang disuarakan BR sama sekali tidak memiliki alasan akademis. lontaran argumentasi BR justru menambah deret kegagalannya dalam menampilkan sosok cerdas. karena yang muncul justru sebaliknya: sok cerdas.
sok cerdas ini bahaya. karena orang yang sok cerdas itu justru tak cerdas. so, buat Bang Rhoma sebaiknya anda memikirkan dulu apa yang anda omongkan. karena omongan anda, mencerminkan kapasaitas diri...

Comments
Post a Comment