Ya, judulnya agak aneh. dan kesannya saya sudah begitu tua. tapi, itulah yang terbetik di kepala ini. judul itu yang melayang-layang. tulisan ini muncul karena saya sering keluar masuk undip. Undip tahu kan? Universitas yang berlokasi di semarang, dan cukup terkenal.
karena seringnya blusukan ke Undip, maka otomatis frekuensi perjumpaan dengan mahasiswa di kampus itu juga meningkat. ya, meningkat dan bahkan sering. beberapa kali, saya agak merasa iri dengan mereka. yup, terlihat sekali, kemudahan kehidupan mereka. tanpa beban, dan asyik saja dengan dunia mereka.
apakah mereka tak mengenal susah? kenal tapi mudah kami lupakan, sebab kami muda..itu mungkin jawab mereka. ya, masuk akal. usia muda, energi melimpah-limpah, maka mudah saja melupakan beban. beban itu tak ada, yang ada hanya kesenangan, teriak mereka.
saya tersenyum sendiri. sebab di muka saya beberapa mahasiswa seperti mengiyakan jawaban saya. tak ada beban yang terlalu berat bagi mahasiswa, bila dibandingkan dengan kehidupan real. apa iya? saya mengingat-ingat kehidupan mahasiswa saya dulu. ya, mungkin benar tak ada beban, tapi dulu rasanya kehidupan sebagai mahasiswa tetap berat. berat karena harus mencari makan sendiri.
ya, di pertengahan masa kuliah, uang dari rumah mulai berhenti mengalir. maka mulailah kehidupan yang penuh tantangan. saya mencoba berbagai cara agar mendapatkan uang, mendapatkan makan. seingat saya, untuk menghemat saya tidak lagi kos, tetapi kontrak sebuah rumah hantu yang hampir ambruk bersama teman-teman. selanjutnya mencari makan dengan bekerja apa saja, jadi tim survey, relawan, panitia seminar atau sekedar menghadiri peresmian guru besar.
entah mahasiswa jaman sekarang? mungkin satu dua ada yg serupa dengan saya. yang lain mungkin tidak merasakan penderitaan sebagai mahasiswa.
karena seringnya blusukan ke Undip, maka otomatis frekuensi perjumpaan dengan mahasiswa di kampus itu juga meningkat. ya, meningkat dan bahkan sering. beberapa kali, saya agak merasa iri dengan mereka. yup, terlihat sekali, kemudahan kehidupan mereka. tanpa beban, dan asyik saja dengan dunia mereka.
apakah mereka tak mengenal susah? kenal tapi mudah kami lupakan, sebab kami muda..itu mungkin jawab mereka. ya, masuk akal. usia muda, energi melimpah-limpah, maka mudah saja melupakan beban. beban itu tak ada, yang ada hanya kesenangan, teriak mereka.
saya tersenyum sendiri. sebab di muka saya beberapa mahasiswa seperti mengiyakan jawaban saya. tak ada beban yang terlalu berat bagi mahasiswa, bila dibandingkan dengan kehidupan real. apa iya? saya mengingat-ingat kehidupan mahasiswa saya dulu. ya, mungkin benar tak ada beban, tapi dulu rasanya kehidupan sebagai mahasiswa tetap berat. berat karena harus mencari makan sendiri.
ya, di pertengahan masa kuliah, uang dari rumah mulai berhenti mengalir. maka mulailah kehidupan yang penuh tantangan. saya mencoba berbagai cara agar mendapatkan uang, mendapatkan makan. seingat saya, untuk menghemat saya tidak lagi kos, tetapi kontrak sebuah rumah hantu yang hampir ambruk bersama teman-teman. selanjutnya mencari makan dengan bekerja apa saja, jadi tim survey, relawan, panitia seminar atau sekedar menghadiri peresmian guru besar.
entah mahasiswa jaman sekarang? mungkin satu dua ada yg serupa dengan saya. yang lain mungkin tidak merasakan penderitaan sebagai mahasiswa.
Comments
Post a Comment