Sudah lama tak berpuisi. Ini sebenernya puisi yg terinspirasi dr seorang penyair hebat. Silahkan...
Tentang Madikipe!
Berdiri di atas puing hitam ini,
Hati terasa membiru beku
Biru serupa wajah lebammu
Yg berkali kali dihajar/digebuk/digilas cakar si lentik bergincu tebal itu: amoy yg ketinggalan imlek.
Sejujurnya aku gemetar, hati terasa habis terhempas sampai jauh ke tempat tempat tersunyi: selokan mampet, bunyi perut yg kelaparan, bau limbah yg mencengkram iga.
Inginku lalu saja, memejamkan mata ini dan berlaku seandainya purnama selalu sempurna: tanpa awan.
Lalu duduk di tepian kali sunter
Memeluk bakung yg liar menjulur
Menghirup kembangnya yg ungu bersemu, masih kah si kepik itu berumah di balik kelopakmu?
Lalu kaki terjulur, mengaduk air yg bergulung bening, membelah terantuk batu, beriak ditelan arus derasnya yg tiba tiba liar. Oh, kecipak air yg berjingkatan itu berkali kali membuat dada ini bergemuruh.
Tetapi purnama musim hujan begini
Selalu kusam. Macam wajah kali ciliwung , wajah kali krukut, wajah kali cisadane, wajah got got marunda, wajah selokan cililitan, wajah nisan si pitung, wajah nisan bokir, wajah nisan bang ben, wajah tanji dor yg kedodoran, wajah kita.
Sejujurnya aku gemetar dan seperti hendak kencing melihat puing hitam ini saban saat membesar
Mendesak semua yg ku kenal ke belakang. Dan kita tak kuasa lagi
Sekedar berkata:madikipe!
Tentang Madikipe!
Berdiri di atas puing hitam ini,
Hati terasa membiru beku
Biru serupa wajah lebammu
Yg berkali kali dihajar/digebuk/digilas cakar si lentik bergincu tebal itu: amoy yg ketinggalan imlek.
Sejujurnya aku gemetar, hati terasa habis terhempas sampai jauh ke tempat tempat tersunyi: selokan mampet, bunyi perut yg kelaparan, bau limbah yg mencengkram iga.
Inginku lalu saja, memejamkan mata ini dan berlaku seandainya purnama selalu sempurna: tanpa awan.
Lalu duduk di tepian kali sunter
Memeluk bakung yg liar menjulur
Menghirup kembangnya yg ungu bersemu, masih kah si kepik itu berumah di balik kelopakmu?
Lalu kaki terjulur, mengaduk air yg bergulung bening, membelah terantuk batu, beriak ditelan arus derasnya yg tiba tiba liar. Oh, kecipak air yg berjingkatan itu berkali kali membuat dada ini bergemuruh.
Tetapi purnama musim hujan begini
Selalu kusam. Macam wajah kali ciliwung , wajah kali krukut, wajah kali cisadane, wajah got got marunda, wajah selokan cililitan, wajah nisan si pitung, wajah nisan bokir, wajah nisan bang ben, wajah tanji dor yg kedodoran, wajah kita.
Sejujurnya aku gemetar dan seperti hendak kencing melihat puing hitam ini saban saat membesar
Mendesak semua yg ku kenal ke belakang. Dan kita tak kuasa lagi
Sekedar berkata:madikipe!
Comments
Post a Comment