Berhentilah*
Berhentilah di tepi jalan, memungut apa saja yang dapat tergapai, mungkin batu, duri, selembar daun, dahan yang meluruh, apa saja. Berhentilah sejenak, dan rasakan denyut jantungmu, kepak sayap burung di akanan, desir dan semilir angin, anyir darah. Berhentilah. Lalu tulis dalam lembar-lembar bencimu, yang kau patri jauh di hatimu, kisah-kisah tentang semua itu. Daun yang meluruh ke tanah dengan gigil dan cemas. Kepak sayap emprit yang menjauh, dan terbang ke sebuah semak, atau duri-duri yang tergeletak di pinggir-pinggir perigi hatimu. Tulislah, dengan sepenuh jiwa, jiwa yang telah kau masak dengan segala teori, dengan segala racun, dan beban-beban yang tak tertanggungkan.
Lalu, kembali berhenti. Di tiap tikungan yang mengarah pada rerimbunan tak bertepi. Hutan-hutan malam yang liar, rumput-rumput yang menyemak, dan teritik air yang menggemakan kesenduan. Bersatulah dengan mereka, resapi ratap kesunyian yang membuka dan menutup, meloncat-loncat ke gendang telingamu, lesaplah, jadilah engkau mereka. lalu tulislah.
Tulislah dalam penantian takdir, bahwa yang kau lihat dalam benak mu adalah masa lalu. Bahwa apa yang terpatri dalam tiap lengking nafas mu adalah bayang-bayang kesumba. Jejak-jejak yang menipu, benda-benda yang membayang. Tulislah dengan pengertian itu, lalu merenunglah.
Renungilah bahwa engkau tak penah benar-benar tahu. Bahwa yang kau tahu justru ketidaktahuan**, bahwa apapun yang berkejar-kejaran dalam mimpi-mimpimu adalah bayang, yang membayang. Mungkin kau perlu menangis, sejadi jadinya, mungkin kita perlu menangis. tetapi menyadari tangisan kita hanyalah ilusi, menyadari bahwa benakpun hanya ilusi, kita akan menggeleng gelengkan kepala, kepala yang juga hanya bayangan. Lalu kita jadi tertawa, sejadi-jadinya tawa…
* sebuah kontemplasi, atau apapun saja...respon untuk tulisan mas Harun Yahya, yang menyadarkan..
**Dari ucapan Socrates.
Berhentilah di tepi jalan, memungut apa saja yang dapat tergapai, mungkin batu, duri, selembar daun, dahan yang meluruh, apa saja. Berhentilah sejenak, dan rasakan denyut jantungmu, kepak sayap burung di akanan, desir dan semilir angin, anyir darah. Berhentilah. Lalu tulis dalam lembar-lembar bencimu, yang kau patri jauh di hatimu, kisah-kisah tentang semua itu. Daun yang meluruh ke tanah dengan gigil dan cemas. Kepak sayap emprit yang menjauh, dan terbang ke sebuah semak, atau duri-duri yang tergeletak di pinggir-pinggir perigi hatimu. Tulislah, dengan sepenuh jiwa, jiwa yang telah kau masak dengan segala teori, dengan segala racun, dan beban-beban yang tak tertanggungkan.
Lalu, kembali berhenti. Di tiap tikungan yang mengarah pada rerimbunan tak bertepi. Hutan-hutan malam yang liar, rumput-rumput yang menyemak, dan teritik air yang menggemakan kesenduan. Bersatulah dengan mereka, resapi ratap kesunyian yang membuka dan menutup, meloncat-loncat ke gendang telingamu, lesaplah, jadilah engkau mereka. lalu tulislah.
Tulislah dalam penantian takdir, bahwa yang kau lihat dalam benak mu adalah masa lalu. Bahwa apa yang terpatri dalam tiap lengking nafas mu adalah bayang-bayang kesumba. Jejak-jejak yang menipu, benda-benda yang membayang. Tulislah dengan pengertian itu, lalu merenunglah.
Renungilah bahwa engkau tak penah benar-benar tahu. Bahwa yang kau tahu justru ketidaktahuan**, bahwa apapun yang berkejar-kejaran dalam mimpi-mimpimu adalah bayang, yang membayang. Mungkin kau perlu menangis, sejadi jadinya, mungkin kita perlu menangis. tetapi menyadari tangisan kita hanyalah ilusi, menyadari bahwa benakpun hanya ilusi, kita akan menggeleng gelengkan kepala, kepala yang juga hanya bayangan. Lalu kita jadi tertawa, sejadi-jadinya tawa…
* sebuah kontemplasi, atau apapun saja...respon untuk tulisan mas Harun Yahya, yang menyadarkan..
**Dari ucapan Socrates.
Comments
Post a Comment